𝙈𝙄𝙉𝙐𝙏 – Diruang sidang Pengadilan Negeri Manado, Kristi Karla Arina atau biasa disapa KKA tak pernah absen menemani sang ayah, Pdt. Hein Arina, di setiap persidangan kasus dana hibah GMIM.
Disetiap sidang, Kristi datang dan duduk, bersama warga lain, mengikuti setiap persidangan.
KKA selalu terlihat tersenyum tidak pernah mengeluh ataupun terlihat murung.
Setiap senyum tulus yang dipancarkan KKA menjadi jembatan untuk Ayah tercintanya.

Disidang keempat, Kristi pun hadir dengan terlihat matanya selalu menatap ayahnya Pdt Hein Arina.
Senyum mereka berdua menjadi bahasa rahasia yang menguatkan, sebuah janji bahwa mereka akan baik-baik saja.
Ketika palu sidang diketuk, Kristi bergegas mendekati sang ayah. Di momen berharga yang singkat mereka berdua berjalan beriringan, walaupun kebersamaan itu harus berakhir di depan mobil tahanan.
Kristi hanya bisa memberikan lambaian lembut. Lambaian itu bukan perpisahan, melainkan janji untuk bertemu lagi.
Kisah Kristi Karla Arina adalah pengingat bahwa di balik jeruji besi dan kasus hukum, ada hati yang berjuang dengan cinta dan kesetiaan.
Senyumnya adalah bukti nyata bahwa cinta tak mengenal kata lelah, dan kesetiaan tak akan pernah pudar untuk ‘cinta pertamanya yaitu ayah tercinta’.
(**)






